NU, JIL, dan Syiah: Menimbang Arah Pemikiran Islam Kontemporer
📌 Oleh: Seorang pengamat awam yang peduli pada warisan Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Belakangan ini, banyak umat Islam yang mulai mempertanyakan arah gerak pemikiran dalam tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia: Nahdlatul Ulama (NU). Hal ini tak lepas dari sejumlah tokoh berpengaruh yang kini berada dalam lingkaran kepemimpinan, seperti Gus Yahya Cholil Staquf dan Gus Ulil Abshar Abdalla, yang dinilai memiliki kecenderungan pemikiran liberal.
✍️ Dari Pesantren ke Diskursus Filsafat?
NU sejak awal berdiri berdasar pada prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, berpijak pada mazhab fiqh empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali), akidah Asy’ariyah dan Maturidiyah, serta tasawuf al-Ghazali. Tradisi pesantrennya kuat dan berakar dalam kultur masyarakat.
Namun kini, sebagian pengamat menyaksikan adanya pembukaan wacana yang lebih rasional, kontekstual, bahkan mendekati liberal—terutama dari tokoh-tokoh intelektual NU seperti Gus Ulil. Ia dikenal sebagai pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) dan pernah secara terbuka menyuarakan toleransi terhadap kelompok Syiah, bahkan Ahmadiyah.
🧠 JIL dan Syiah: Mirip atau Berbeda?
Meski secara historis dan doktrin JIL dan Syiah sangat berbeda, keduanya sering disandingkan oleh kalangan konservatif karena beberapa kesamaan:
- Sama-sama mengkritisi otoritas tradisional dan membuka ruang tafsir.
- Sama-sama menolak pendekatan takfiri terhadap kelompok lain.
- Sama-sama dianggap “menyimpang” dari arus utama oleh sebagian kalangan Sunni.
Namun perbedaannya juga jelas:
- JIL adalah gerakan intelektual modern, Syiah adalah mazhab teologis klasik.
- JIL menolak otoritas ulama mutlak, Syiah justru menegaskan kedudukan Imam yang maksum.
- JIL menafsirkan ulang syariat, Syiah punya hukum fiqh sendiri yang dijalankan secara ketat.
👤 Ulil Abshar dan Kedekatan dengan Tokoh Syiah
Kedekatan Gus Ulil dengan tokoh Syiah seperti Jalaluddin Rahmat memang nyata. Saat Jalaluddin wafat, Gus Ulil menyampaikan penghormatan mendalam, menyebutnya sebagai pemikir besar Indonesia. Ia juga menolak penghakiman terhadap Syiah sebagai penodaan agama, dan menyerukan dialog lintas mazhab.
Apakah ini berarti Gus Ulil berpaham Syiah? Tidak. Tapi pendekatannya jelas inklusif dan mendekati semangat liberalisme agama.
🤔 Masih yakinkah dengan NU?
Ini pertanyaan yang tidak semua orang berani jawab terang-terangan. Sebagian akan tetap teguh bersama NU karena cinta tradisi dan kontribusi sosialnya. Sebagian lagi mulai berpikir untuk menyuarakan kritik atau mencari ruang yang lebih selaras dengan prinsip tauhid dan Sunnah.
Namun barangkali, sikap terbaik adalah islah dari dalam. NU bukan milik segelintir tokoh, tapi milik seluruh umat yang setia pada ajaran Rasul ﷺ dan para ulama salaf.
📣 Penutup
Dalam gempita wacana modern, umat Islam tak perlu resah berlebihan tapi juga jangan lengah. Jaga akidah dengan ilmu, bukan emosi. Kritik boleh, tapi dengan adab. NU bisa tetap besar, selama para pemangkunya tidak lupa pada akar tradisi dan cahaya wahyu.
Komentar
Posting Komentar